Rabu, 18 Juli 2012

5 Hal yang 'Halal' Diperdebatkan dengan Dokter

Meski wawasannya tentang penyakit jauh lebih luas dibanding orang kebanyakan, bukan berarti omongan dokter harus semuanya ditaati. Untuk tujuan tertentu, dokter 'halal' untuk dibantah dan diajak berdebat. Dalam porsi wajar tentunya.

Membantah dokter juga harus mempertimbangkan etika, sebab biar bagaimanapun dokter juga punya perasaan seperti manusia pada umumnya.

Mendebat dokter hanya perlu dilakukan untuk melindungi hak pasien, sekaligus krontrol sosial biar dokternya tidak sembarangan karena pasien zaman sekarang makin pintar.

Hal-hal yang perlu dan sering diperdebatkan saat berhadapan dengan dokter antara lain sebagai berikut, seperti dikutip dari MensHealth.com, Rabu (18/6/2012).

1. Resep obatnya kebanyakan

Saat seseorang didiagnosis hipertensi atau penyakit kronis lainnya, beberapa dokter langsung akan meresepkan berbagai macam obat sampai kertas resepnya tampak penuh dengan tulisan cakar ayam. Sebagai orang awam, pasien kadang tidak punya pilihan selain mengiyakan.

Kalau mau sedikit cerewet, kadang-kadang tidak semua obat itu dibutuhkan. Cobalah menawar, mana tahu ada obat yang bisa dicoret dan diganti dengan modifikasi pola makan atau gaya hidup misalnya.

2. Anjuran operasi yang meragukan

Ketika seorang dokter sedang berusaha mendiagnosis, tanyakan selalu alternatif pemeriksaan yang tidak harus dilakukan dengan pembedahan berisiko. Pasti ada alternatif, misalnya biopsi atau pemeriksaan sampel jaringan pada beberapa jenis kanker sudah bisa digantikan dengan tes darah yang lebih aman.

3. Sedikit-sedikit kontrol

Kontrol secara langsung, tatap muka dengan dokter umumnya memang penting kalau memang masih ada yang harus diperiksa. Tetapi kadang-kadang, datang ke dokter untuk kontrol rasanya seperti cuma seperti setor uang saja karena cuma dipegang-pegang sebentar, ditanya bagaimana rasanya lalu diberi obat lagi.

Kalau memang betul-betul sibuk dan dirasa dokternya terlalu sering menganjurkan kontrol, cobalah untuk minta dilayani kontrol jarak jauh. Kalau cuma menceritakan apa yang dirasakan saat ini, lewat telepon akan lebih praktis.

4. Harga obat terlalu mahal

Lagi-lagi posisi pasien adalah orang awam yang tidak punya banyak pilihan karena memang pengetahuannya terbatas. Obat apapun, berapapun harganya pasti akan ditebus karena percaya dokter tahu yang terbaik untuk pasiennya.

Tidak bisa dipungkiri, beberapa dokter menerima imbalan tertentu dari perusahaan ketika meresepkan sebuah produk obat. Karena itu, pastikan untuk selalu menanyakan alternatif obat generik yang harganya jauh lebih murah.

5. Diagnosis tidak meyakinkan

Di era keterbukaan informasi, pasien bisa menjdai dokter untuk dirinya sendiri meski risiko salahnya juga besar. Paling tidak, pengatahuan yang didapat dari cerita teman atau hasil browsing di internet bisa dijadikan pembanding kalau sekiranya diagnosis dokter agak meragukan.

Jika merasa tidak yakin dengan diagnosis seorang dokter, jangan ragu-ragu untuk memanfaatkan second opinion dari dokter yang lain. Kalau second opinion ternyata sama-sama meragukan, mungkin memang ada yang salah dengan sumber informasi di internet.

0 komentar:

Posting Komentar

newer post older post Home